Subscribe Us

header ads

Apakah yang Melukai Saya Benar-Benar Ucapan Mereka, atau Perasaan Saya yang Tidak Terlihat?

Konsultasi : 0858-6767-9796

Belajar Memahami Luka karena Merasa Dibedakan melalui Terapi Menulis

Anonime (27), Klien Terapi Menulis

Nama dan beberapa informasi pribadi telah disamarkan untuk menjaga kerahasiaan klien. Tulisan ini dipublikasikan atas izin klien sebagai media edukasi dan pembelajaran.


Tulisan Awal Klien

Semalam ada teman yang menjemput saya untuk keluar. Sebelum berangkat, saya berpamitan kepada orang tua.

Saya berkata,

"Pa, saya mau main ya. Nanti ada teman yang jemput. Minta uang buat jajan ya."

Papa bertanya,

"Berapa?"

Saya menjawab,

"Lima puluh ribu saja, Pa."

Papa mengatakan,

"Ngapain? Pakai uang yang ada saja. Kamu masih punya uang."

Saya menjelaskan,

"Itu hasil kerja saya. Saya ingin menabungnya, jadi tidak ingin dipakai."

Papa menjawab,

"Apa-apa minta uang Papa. Belum kerja kok minta uang terus."

Saya hanya menjawab,

"Ya sudah kalau memang tidak dikasih."

Saya tidak tahu setelah itu Mama dan Papa berbicara apa. Saat itu saya sedang melakukan video call dengan teman yang akan menjemput saya.

Tidak lama kemudian Mama memberikan uang Rp30.000.

Mama berkata,

"Ini tiga puluh ribu."

Papa menambahkan,

"Kalau ada sisanya, dikembalikan."

Saya menjawab,

"Iya."

Setelah pulang, uang saya masih tersisa Rp2.000.

Saya menyerahkan kembali uang tersebut.

"Pa, ini sisa uangnya dua ribu."

Namun Papa kembali berkata,

"Kalau pergi keluar selalu minta uang. Buat apa sih?"

Saya menjawab,

"Buat jajan, Pa."

Papa kembali mengatakan,

"Kan kamu masih punya uang."

Saya menjelaskan,

"Uang itu ingin saya tabung."

Papa menjawab dengan nada tinggi,

"Kalau setiap keluar minta uang terus ya habis uangnya. Kalau tidak punya uang, ya tidak usah keluar rumah. Simpel."

Saya hanya bisa menjawab,

"Ya sudah, terserah Papa."

Jujur, saya merasa sangat terluka.

Saya merasa orang tua saya lebih membela kakak saya dibandingkan saya. Dulu ketika saya sudah bekerja, saya tidak pernah meminta uang setiap kali ingin keluar rumah.

Namun sekarang saya merasa sikap orang tua saya berubah. Mereka terasa lebih keras kepada saya dibandingkan kepada kakak saya.


Analisis Terapi Menulis

Saat membaca kembali tulisan ini, ada beberapa hal yang saya temukan.

Peristiwa yang terjadi

Saya meminta uang kepada orang tua untuk keluar bersama teman, tetapi respons yang saya terima membuat saya merasa tidak nyaman.

Perasaan yang muncul

  • Terluka.
  • Kecewa.
  • Sedih.
  • Merasa tidak dihargai.
  • Merasa diperlakukan berbeda.
  • Merasa tidak dipercaya.

Pikiran yang muncul

  • "Orang tua lebih menyayangi kakak saya."
  • "Saya selalu dipermasalahkan."
  • "Apa pun yang saya lakukan pasti salah."
  • "Saya tidak diperlakukan dengan adil."

Di sinilah saya menyadari bahwa peristiwa yang saya alami mulai berkembang menjadi sebuah kesimpulan yang lebih besar tentang diri saya dan hubungan saya dengan orang tua.


Latihan Terapi Menulis

Saya mencoba bertanya kepada diri sendiri.

Apa yang sebenarnya paling melukai saya?

Apakah karena uang tiga puluh ribu itu?

Sepertinya bukan.

Apakah karena Papa berbicara dengan nada tinggi?

Mungkin sebagian iya.

Namun setelah saya renungkan, yang paling membuat saya sedih adalah karena saya merasa tidak dipercaya dan diperlakukan berbeda.

Saya ingin dianggap sebagai anak yang bertanggung jawab.

Saya ingin orang tua melihat bahwa saya berusaha menabung, bukan menghamburkan uang.

Saya ingin dipercaya, bukan dicurigai.

Kemudian saya bertanya lagi kepada diri saya.

Apakah saya benar-benar tahu apa yang ada di dalam pikiran Papa?

Jawabannya, belum tentu.

Saya hanya mengetahui kata-kata yang saya dengar. Saya belum mengetahui alasan di balik cara Papa menyampaikannya.

Mungkin Papa sedang mengkhawatirkan kondisi keuangan.

Mungkin Papa ingin mengajari saya hidup hemat.

Mungkin cara menyampaikannya yang membuat saya merasa terluka.

Saya juga menyadari bahwa ketika saya merasa diperlakukan berbeda dengan kakak saya, luka lama di dalam diri saya ikut muncul. Akibatnya, setiap kejadian baru terasa seperti bukti bahwa saya memang tidak diperlakukan dengan adil.

Hari ini saya belajar bahwa perasaan saya layak didengarkan. Namun, perasaan bukanlah bukti bahwa semua kesimpulan saya pasti benar.

Saya ingin belajar membedakan antara apa yang benar-benar terjadi dengan makna yang saya berikan terhadap kejadian tersebut.


Makna Baru

Saya tidak bisa mengubah cara orang lain berbicara kepada saya.

Saya juga tidak bisa memaksa orang lain memahami kebutuhan saya.

Namun saya bisa belajar memahami diri saya sendiri.

Saya mulai menyadari bahwa kebutuhan terbesar saya bukanlah uang, melainkan ingin dihargai, dipercaya, dan diperlakukan dengan adil.

Kesadaran ini membantu saya memahami mengapa saya begitu terluka.

Mulai hari ini saya ingin belajar mengungkapkan kebutuhan saya dengan lebih tenang, tanpa membiarkan emosi mengambil alih.

Saya percaya hubungan yang baik tidak dibangun dari siapa yang benar atau salah, tetapi dari keberanian untuk saling memahami.


Pembelajaran untuk Kita

Sering kali luka yang kita rasakan bukan semata-mata berasal dari sebuah percakapan, tetapi dari kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Ketika seseorang merasa tidak didengar, tidak dipercaya, atau tidak diperlakukan adil, peristiwa sederhana dapat terasa sangat menyakitkan.

Melalui Terapi Menulis, kita belajar memisahkan antara fakta, perasaan, dan penafsiran. Dengan begitu, kita tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, tetapi memberi ruang bagi diri sendiri untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam hati.

Refleksi

"Tidak semua perkataan yang menyakitkan lahir dari kebencian. Namun setiap luka adalah kesempatan untuk mengenali kebutuhan terdalam kita, agar kita dapat menyampaikannya dengan lebih sehat dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat."


Terapi Menulis – Griya Hipnoterapi MPC

Menceritakan • Memahami • Memberi Makna • Bertumbuh