Belajar Mengelola Emosi melalui Terapi Menulis
Anonime (27), Klien Terapi Menulis
Nama dan beberapa informasi pribadi telah disamarkan untuk menjaga kerahasiaan klien. Tulisan ini dipublikasikan atas izin klien sebagai media edukasi dan pembelajaran.
Tulisan Awal Klien
Pak, saya ingin jujur. Saya membeli vape lagi. Padahal sebelumnya saya pernah mengatakan kepada Bapak bahwa vape yang saya miliki adalah yang terakhir. Namun ternyata saya membeli lagi.
Saya mohon hal ini tidak disampaikan kepada keluarga saya.
Kemarin saya juga sempat sangat emosi. Saya merasa kedua orang tua saya memancing emosi saya.
Kejadiannya bermula ketika Mama mengatakan bahwa nanti cukup membeli krim dari dokter kecantikan yang dekat rumah karena krim dari dokter di Pemalang sudah habis.
Lalu saya bertanya kepada Mama,
"Ma, nanti ada pemeriksaan wajahnya (facial assessment) tidak?"
Saya bertanya karena khawatir jika langsung berganti produk dari dokter yang berbeda tanpa pemeriksaan terlebih dahulu, takut kulit wajah saya tidak cocok.
Mama menjawab,
"Kan beli krimnya saja."
Saya mencoba menjelaskan lagi,
"Kan harus diperiksa dulu wajahnya, Ma. Takutnya kalau langsung ganti krim dari dokter yang berbeda malah tidak cocok."
Namun Mama menjawab dengan nada yang lebih tinggi,
"Ya Mama tidak tahu. Ngapain sih nanya-nanya begitu?"
Saya kemudian berkata,
"Aku cuma bertanya, Ma. Kenapa jawabnya pakai nada tinggi?"
Mama menjawab,
"Pertanyaannya juga tidak penting."
Saya hanya bisa mengatakan,
"Ya sudah, Ma. Tapi tidak usah pakai nada tinggi."
Setelah kejadian itu, emosi saya semakin meningkat. Saya merasa sedih, kecewa, dan sulit mengendalikan perasaan.
Peta Emosi
Melalui terapi menulis, saya mencoba mengenali apa yang sebenarnya saya rasakan.
Peristiwa:
Mama menjawab pertanyaan saya dengan nada yang tinggi.
Perasaan yang muncul:
- Sedih
- Kecewa
- Marah
- Tidak nyaman
- Merasa tidak dipahami
Pikiran yang muncul saat itu:
- "Mama tidak menghargai pertanyaan saya."
- "Mama tidak memahami maksud saya."
- "Saya dianggap berlebihan."
Proses Terapi Menulis
Ketika saya membaca kembali tulisan saya, saya mulai bertanya kepada diri sendiri.
Apa yang sebenarnya paling membuat saya marah?
Ternyata bukan hanya karena kata-kata yang diucapkan, tetapi karena saya merasa tidak didengar dan tidak dipahami.
Apakah nada bicara yang tinggi selalu berarti tidak sayang atau tidak menghargai?
Belum tentu.
Mungkin Mama sedang lelah.
Mungkin Mama sedang banyak pikiran.
Mungkin Mama tidak bermaksud menyakiti saya.
Saya menyadari bahwa saya sering memberi makna terlalu cepat terhadap suatu peristiwa.
Ketika orang lain berbicara dengan nada yang tidak saya sukai, saya langsung merasa ditolak atau tidak dihargai.
Padahal, bisa jadi kenyataannya tidak sepenuhnya demikian.
Makna Baru
Hari ini saya belajar bahwa saya tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain berbicara kepada saya.
Tetapi saya dapat belajar mengendalikan cara saya memberi makna terhadap setiap kejadian.
Perasaan saya tetap penting dan nyata. Saya tidak perlu menyangkal bahwa saya merasa sedih atau kecewa.
Namun saya juga tidak harus membiarkan perasaan itu menguasai diri saya.
Saya ingin belajar berhenti sejenak sebelum bereaksi.
Saya ingin memahami perasaan saya terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan tentang orang lain.
Saya sedang belajar menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih mampu mengelola emosi, dan lebih bijaksana dalam merespons keadaan.
Pembelajaran untuk Kita
Sering kali yang paling melukai kita bukan hanya peristiwa yang terjadi, tetapi makna yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut.
Terapi menulis membantu kita berhenti sejenak, mengenali emosi, memahami pikiran, dan menemukan sudut pandang yang lebih membantu.
Dengan menulis, seseorang tidak hanya menceritakan masalahnya, tetapi juga belajar mengenali diri, mengelola emosi, dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih berdaya.
Refleksi
"Saya mungkin tidak dapat mengendalikan sikap orang lain, tetapi saya selalu memiliki pilihan untuk mengendalikan cara saya merespons."
Terapi Menulis – Griya Hipnoterapi MPC
Menulis untuk Melepaskan, Memahami, dan Memberdayakan Diri.






